Kamis, 01 Mei 2014

DETIK TERAKHIR

          

Detik Terakhir
Detik waktu terus berjalan, pergi meninggalkan aku yang tengah sendiri. Kini waktuku sudah tidak banyak lagi, hanya tersisa beberapa hari, untukku menyelesaikan tugas ini atau dapat dipastikan nilaiku untuk mata kuliah yang satu ini akan jeblok !!! Kulirik jam dinding dikamarku, kini sudah menunjukan pukul 07.30, aku harus bergegas mandi karena aku akan pergi ketoko seperti biasanya .
Tapi biasanya aku hanya akan berjaga ditoko tengah hari selepas kegiatan kuliahku dikampus usai. Tapi berhubung hari ini adalah hari sabtu, dan setiap hari sabtu aku tidak akan kuliah. Eeiitss…!!! tunggu dulu aku tidak kuliah bukan karna  aku  malas, sakit, atau  karena ada hujan badai besar  yang tengah melanda hari itu, tapi.., karna memang jadwal kuliahku di hari sabtu free, kosong  hehehe…Oleh karena itu hari ini aku harus menjaganya  mulai dari matahari terbit hingga matahari kembali terbenam.
Ku sempatkan dhuha sebelum berangkat, dan tak lupa menyelipkan sedikit  doa di akhir sujudku “mudahkanlah aku dalam  menyelesaikan tugas ini ya allah”. Selepas salam aku pun menengadahkan tangan seraya memohon ampunan kepada NYA, serta meminta semoga allah melapangkan rizki untukku, keluarga, dan saudara-saudaraku.
Usai  berdoa aku pun beranjak dari dudukku menuju kamar, lalu dengan cepat ku bereskan semua hal  yang ada dikamarku yang  akan membuat mata tidak nyaman bila melihatnya. Kemudian dengan cepat kusambar gagang ranselku lalu kudaratkan ia dibelakang punggungku, seraya bergegas meninggalkan kamar menuju kedepan, kukaih kunci motor yang menggantung didinding lemari depan. Lalu kuhampiri kekasihku yang tengan tertidur lelap, dengan pelan aku membangunkannya agar ia tak kaget, ayo kita harus kembali bekerja, ujarku padanya.
 Disepanjang perjalanan aku masih berfikir dan mencoba mencari-cari inspirasi  untuk cerpenku nanti. Sesampainya ditoko aku bergegas untuk membereskan semuanya agar terlihat lebih bersih dan rapi. Kuhampiri dengan moceng para debu-debu bandel yang tak pernah bosan aku depak dari tempatnya bernaung. Setelah selesai aku duduk didepan meja ku kaih secarik kertas putih yang masih bersih. Baiklah aku akan mulai menulis cerpennya.
Awalnya si lancar lancar saja, namun setelah mendapatkan satu paragrap aku terhenti, tak ku temukan sehelai kalimatpun untuk melanjutkan ceritanya. Kemudian aku mulai coba menulis  lagi dengan ide yang baru, tapi setali tiga uang setelah mendapatkan satu paragrap aku  kembali mengalami kebuntuan. Ideku macet seakan kehabisan tenaga.
Aku berhenti sejenak, kupandangi langit yang berada tepat dihadapanku saat ini sedikit menyilaukan. Matahari kini telah sampai diperaduannya, memancarkan cahaya  terangnya keseantero dunia, lalu sayup-sayup terdengar kumandang adzan zuhur dari masjid  yang  letaknya tidak terlalu  jauh dari tempatku saat ini. Seruan shalat bagi orang-orang yang beriman, untuk meninggalkan sejenak urusan dunianya dan bercumpa dengan kekasihnya untuk mendiskusikan semua hal yang tengah dijalani.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu kutunaikan shalat. Usai shalat aku kembali ketempat dudukku, untuk menggarap kembali cerpenku. Beberapa detik berlalu aku belum juga mendapatkan seuntai kalimatpun, kertas yang ada dihadapanku masih bersih tak ada coretanya sedikitpun. Yang ketemui hanyalah riuh  suara cacing-cacing yang tengah berdemo didalam perutku. Kulirik jam yang ada diHP ku, kini sudah menunjukkan  pukul 13.30 waktunya makan siang.
Aku beranjak dari tempat dudukku untuk memenuhi hak atas diriku. Setelah selesai aku kembali ke tempat duduk, rencananya untuk kembali menulis tapi naas tak berselang lama setelah aku duduk kini  rasa kantuk pula yang mulai menyerangku.
ouchhh….!!! Semakin aku mencoba menahannya, rasanya semakin bertambah  berat mata ini untuk dibuka… Sial, kali ini  aku tak dapat mengalahkan rasa kantukku, baiklah ku sudahi rencana ku hari ini, esok akan kulanjutkan.
KRIIIINGGKK…erangan jam membuatku tersentak bangun dari tidurku.
Kucoba menilik jam yang tengah berdering dalam genggaman tanganku. Dengan mata sayup setengah sadar aku melihat, kini menunjukkan pukul 05.00 itu artinya sudah waktunya shalat subuh. Aku beranjak dari ranjangku  menuju  kamar mandi untuk wudhu kemudian shalat.
Usai shalat aku kembali pada misiku yang terhambat kemarin. OUCHH..!!! cerpen kau membuat otakku menjadi keriting. Tapi baiklah aku akan memulainya, aku pasti bisa. Karna aku tahu bahwa “sukses tidak akan pernah datang dan  menyapa orang-orang yang hanya duduk diam dan berpangku tangan”.
Kali ini kucoba buka kembali buku catataanku kemarin. Tahapan-tahapan dalam  membuat cerpen, kini bola mataku tertuju pada poin terakhir dalam buku catatanku ”membaca minimal tiga buah cerpen” tujuanya untuk memberikan gambaran agar kita mudah dalam membuatnya.
Dengan cepat tanganku menggali tumpukan kertas hasil diskusi kemarin. Dalam sekejap  aku sudah mendapatkannya, kini ditanganku sudah ada tiga buah cerpen yang harus aku baca satu persatu. Baiklah aku akan  mulai membacanya, setelah beberapa menit berlalu. Ketiga cerpen tersebut sudah habis aku lahap. Ahaa…!!! Ternyata benar.. setelah aku membaca ketiga cerpen tadi, tampaknya aku mulai menemukan gambaran tentang apa yang akan aku tulis.
Kukaih secarik ketas kemudian aku mulia menulisnya. Pena yang ada ditanganku kini mulai menari-nari dengan lincah. Judulnya TRAGEDI LEBARAN aja lah, libur lebaran kemarin dikampung halamanku berjalan seperti biasanya tak ada yang terlalu istimewa hanya semakin sepi saja, bukan karna warganya banyak yang mudik.
 Tapi…!!! entahlah aku tidak tau pasti gerangan apa yang tengah terjadi dikampungku, tapi yang pasti disetiap tahun saat kepulanganku selalu saja terjadi perubahan dikampungku ini, baik dari perubahan lingkungan maupun perubahan tingkah laku para penghuninya.
Kini kampungku sudah semakin gersang membuatku gerah bila melihatnya, tak ku temukan lagi tempat sejuk yang rimbun akan dedaunan  hijau. Kini yang ada hanya bangunan rumah-rumah penduduk yang tumbuh bak jamur dimusim penghujan.
Bangunan itu berdiri disepanjang jalan yang dulunya adalah persawahan dan ladang-ladang nun hijau ditumbuhi beraneka jenis sayuran dan buah-buahan yang  menyegarkan.
Aahh!!! apa boleh buat yang ku tau kampungku kini memang tengah berkembang, semua jalan-jalan yang ada akan mulai diperbaiki dan diperlebar, tujuannya siih untuk memudahkan warganya dalam beraktivitas. Semoga saja rencana ini dapat berjalan dengan lancar dan bermanfaat bagi warganya.
Tapi tunggu dulu…!! sepertinya aku menemukan kejadian yang sama seperti yang terdapat pada cerpen “pohon hayat” yang aku analisis kemarin. Kini tampaknya warga dikampungku  juga mulai terserang hama, seperti halnya manusia diperkotaan.
Bergaya trendi dan bersikap individualisme, acuh tak acuh. Dan kini dikampungku mulai marak terjadi tindakan kriminalitas mulai dari pencurian, penodongan, kecelakaan, pembunuhan dan masih banyak lagi lainya.
Rasanya aku semakin ngeri untuk pulang kekampung halamanku ini, dimataku kini kampungku  sudah sangat asing. Seperti halnya kejadian selepas lebaran saat itu, pada malam itu aku benar-benar merasakan yang namanya takut mati, aku tidak bisa tidur mata ini terjaga sampai fajar mulai menyingsing.
Malam itu suasana dikampungku sangat mencekam, sejak sore hari  hingga malam tiba semua jalan-jalan yang ada dikampungku dipenuhi oleh lautan manusia mulai dari yang muda sampai yang tua. Mereka semua membawa benda-benda tajam mulai dari parang, tombak ,celurit, pisau dapur, linggis, golok, pokonya semua benda-benda yang dapat digunakan untuk menyerang musuh dan membela diri dari musuh.
Peristiwa ini bermula dari sebuah kejadian dihari lebaran, hari itu ada salah satu warga kami yang dipalak oleh sekelompok pemuda dari desa tetangga.  Mereka mengancam menggunakan senjata api untuk melancarkan aksinya.
Kejadian ini berlangsung dua kali, sebenarnya tidak hanya hal ini saja yang kerap kali terjadi dikampungku. Banyak hal-hal lain yang kerap terjadi dengan peristiwa yang berbeda pula. Tapi mungkin inilah puncak kemarahan warga dikampungku terhadap tindakan yang sering mereka lakukan.
Warga yang marah saat itu, kemudian melancar aksi demo secara besar-besaran di depan kantor Kapolres untuk meminta tanggapan serta tindakan tegas dari para polisi mengenai masalah ini. Warga berharap agar tidak terjadi lagi peristiwa-peristiwa  yang tidak menyenangkan lainya.
Tapi tampaknya para aparat kami tidak memiliki  cukup keberanian menghadapi masalah ini. Mereka terlalu taat pada aturan sehingga mereka baru akan bertindak bila telah mendapatkan perintah dari atasannya terlebih dahulu.
Tapi nampaknya kini warga juga telah bosan untuk menunggu kepastian yang tidak pernah pasti itu. Warga sudah muak terhadap semua tindakan-tindakan tidak menyenangkan yang kerap dilakukan oleh sekelompok orang didesa tetangga itu, seperti perampasan hasil kebun, pemalakan, bahkan pembantaian yang pernah dilakukanya didesa tetangga.
Semua ini sudah menunjukkan bahwa mereka adalah kuman-kuman berbahaya yang perlu dibasmi dan dimusnahkan dari muka bumi. Wargapun sudah bertekat  jika polisi tidak segera bertindak untuk menyelesaikan masalah ini. Maka warga sendirilah yang akan turun tangan untuk menyelesaikanya.
Mereka akan melancarkan aksi pembakaran kantor kepolisian jika polisi masih saja diam. Dan warga akan turun kemedan pertempuran langsung untuk  membumi hanguskan wilayah tersebut beserta penghuni yang ada di kampung tersebut. Sebut saja kampung cimaling. Sebuah kampung yang sebagian besar penduduknya adalah pencuri, penjarah, perampok,  semuanya ada disana.
Pada malam itu para wanita dan anak-anak dikampungku hanya bisa  meringkuk didalam rumah dengan perasaan was-was berjaga jangan sampai ada penyusup yang masuk kedalam rumah.
 Aahh!!! Rasanya ngeri sekali bila membayangkan malam itu. Tapi alhamdulillah peristiwa perang tersebut tidak benar-benar terjadi. Kemudian aku kembali terhenti. Ya ini adalah kalimat terakhir yang dapat aku tuliskan, karena seketika itu juga tanganku kaku dan penaku mulai macet,.
Ku coba periksa isi penaku mungkin saja tintanya habis, tapi rasanya  bukan karna tintanya tapi memang ceritanya yang sudah habis, sudah selesai tak ada lagi yang dapat aku ceritakan. Rasanya terlalu singkat tulisanku ini untuk sebuah cerpen. Ohh…!! Aku benar-benar pusing sekarang.
Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur lalu kupandangi langi-langit kamarku, tampak seekor laba-laba tengah merajut gubuk untuk tempatnya bernaung. Aahh!! seandainya saja binatang yang menjadi ikon film spiderman ini dapat berbicara, tentu aku akan meminta nasihat padanya untuk cerpenku ini.
Kualihkan pandanganku ketempat lain, dan kini tertuju pada poster-poster boyband korea yang menempel didinding kamarku, dan kini mereka semua seakan menatapku dengan sinis.
“Hey kamu yang disana. ya kamu…kenapa bersantai-santai hah…!!!
“lihatlah teman-temanmu… mereka semua sudah menyelesaikan cerpen mereka masing-masing dengan cerita yang luar biasa” ujar laki-laki dalam  poster itu menghakimiku yang tengah terkapar ditempat tidur”
“Dasar kepo…”aku sedang berfikir bukan bersantai…”ujarku dalam hati kesal”.
Kualihkan lagi pandanganku ketempat lain, dan kini bola mataku tertuju pada seonggok buku yang membukit diatas meja belajarku, diatas puncaknya aku menangkap sebuah buku bersampul biru laut agak kehijauan, dan sedikit bercorak  orange diantaranya.
Kugapai buku itu dengan tanganku, disampul depannya bercetak tulisan “Rantau Muara”, novel ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Novelis muda berbakat yang telah menggapai mimpi-mimpinya, dan telah melanglang buana keseparuh belahan bumi lainnya. Kubuka lembar sampul yang pertama, dibalik sampul itu aku menemukan tiga untaian kalimat yang diadopsi dari bahasa arab.
Kalimat pertamanya berbunyi ”MAN JADDA WAJADA” yang artinya “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil”. kalimat keduanya “MAN SHABARA ZHAFIRA” artinya “siapa yang bersabar akan beruntung”, dan kalimat ketiga berbunyi “MAN SAARA ALA DARBI WASHALA” yang berati “siapa yang berjalan dijalannya akan sampai ditujuan”.
Inilah tiga senjata pamungkas yang digunakan Ahmad Fuadi untuk menaklukan semua mimpi-mimpinya. Obat mujarab yang digunakanya untuk mengatasi penyakit-penyakit kehidupan. Sebuah mantra sakti yang diperolehnya dari para guru-guru hebat yang mengajarnya selama ia mondok dipondok pesantren modern, Gontor.
Sebuah Pesantren yang telah melahirkan banyak generasi-generasi berkualitas dan berkarakter. Aku mulai coba membaca novelnya, perlahan namun pasti lembar demi lembar aku lewati, tanpa sadar aku mulai tenggelam dan hanyut dalam ceritanya sampai aku terhenti pada sebuah kalimat yang berbunyi “JIKA KAU BUKAN ANAK RAJA DAN JUGA BUKAN ANAK ULAMA BESAR, MAKA MENULISLAH” PEPATAH IMAM AL-GHAZALI. Aku kembali termenung dan berusaha mencerna arti dari pepatah tersebut.
Aku mulai berfikir dan mencoba menilik kembali sejarah dan silsilah garis keturunan keluargaku. Kalau-kalau saja dalam tubuhku masih mengalir garis keturunan orang darah biru, mengingat kedua orang tuaku masih ada bau-bau jawanya atau mungkin saja keluargaku masih keturunan dari para wali songo ulama besar yeng telah banyak menyebarkan islam di republik ini
Setelah kutilik tampaknya aku dan keluargaku tak memenuhi syarat seperti  yang terdapat pada pepatahnya imam al-ghazali tadi. Sekarang yang tersisa dari pepatah tersebut  hanyalah kata “MAKA MENULISLAH” rasanya kata ini kini menjadi berhukum wajib bagiku atau bisa jadi inilah jawaban dari Allah atas doa’ku selama ini. Ahh..!! entahlah aku tak tau pasti.
Berangkat dengan bekal dari pepatah imam al-ghazali inilah, aku mulai berani untuk menuliskan semua ini. Di detik-detik terakhir waktuku. Ku coba tuliskan semua hal yang pernah kualami dalam pembuatan cerpenku, sampai akhirnya selesailah tulisan ini. Aku telah berikhtiar dan berusaha dengan semaksimal mungkin, kini ku serahkan semua ini pada”NYA”.

Biarlah “DIA” yang nilai dan tentukan lagi semua ini. Apapun keputusannya aku akan menerimanya dengan ikhlas, mungkin inilah yang terbaik untukku saat ini. Ehmm…!! Rasanya aku ingin seperti Ahmad Fuadi sukses dalam menaklukan mimpi-mimpinya. Dan suatu saat nanti aku ingin berdiri bersama para penakluk mimpi-mimpi itu, menjunjung tinggi mimpi-mimpi terhebat dipuncak kehidupan dan Menjadi sang penakluk mimpi. ALLAHUAKBAR..!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar